Istilah Chindonesia, pertama kali saya baca dalam sebuah undangan Event Seminar yang diadakan oleh Indonesian Young Enterpreneurs (IYE!) di bawah koordinasi Bpk. Christovita Willoto yang adalah seorang pakar Public Relations di Indonesia. Memang Seminar tersebut membahas 3 kekuatan besar negara di Asia yang akan bangkit yaitu: China, India, dan Indonesia. ya, Chindonesia.
Saya sangat senang dengan istilah ini, Chindonesia. Dalam tulisan ini saya ingin mendefinisikan ulang menjadi China di Indonesia, alias Chindonesia :) Mengapa senang? Karena memang saya adalah orang China yang lahir di Indonesia. Jadi Chindonesia :) Saya masih ingat dengan jelas, masa-masa sulit menjadi orang China yang tinggal di pulau Jawa khususnya Jawa Tengah. Dimana dulu saya juga mengalami diskriminasi, “dicino-cino-ke”.
Sangat sakit rasanya, mengalami perlakuan seperti itu waktu saya kecil. Dulu saya juga bertanya-tanya mengapa saya harus mengalami perlakuan seperti ini? Namun semakin saya beranjak dewasa, semakin saya sadar bahwa pada masa itu, orang-orang China mengalami tekanan sosial dan politis, yang membuat orang-orang China justru bergerak di bidang ekonomi. Ini adalah blessings in disguise.
Saya juga teringat pada tahun 1980 di Solo terjadi peristiwa perusakan dan pembakaran terhadap beberapa toko-toko di Pecinan Solo bahkan sampai di pelosok-pelosok kampung, dimana kami harus bersembunyi untuk menyelamatkan diri. Entah mengapa, waktu itu hal seperti ini boleh terjadi? Saya hanya diam, tidak pernah bertanya-tanya, mengapa?
Dari kelas 3 SD hingga lulus SMA, saya sekolah di sekolah negeri. Dan saya sangat bersyukur boleh mengenal teman-teman dari berbagai suku, agama, dan golongan sejak saya kecil. Hal ini telah membentuk kecintaan dan kebanggan saya menjadi orang Indonesia. Saya masih ingat dengan logat bahasa Jawa halus saya (kini sudah jauh ketinggalan), saya juga suka makanan Warteg ketika kuliah di Jakarta, saya suka batik, saya suka berbagai seni dan tradisi dari Indonesia. Bahkan saya berusaha jadi orang Indonesia yang nasionalis.
Namun, realitas bahwa di dalam darah saya mengalir darah China, tidak bisa saya pungkiri, di dalam lubuk hati saya yang terdalam ada kerinduan bahwa suatu saat saya akan mengunjungi daerah leluhur saya di China. Jiwa saya juga merindukan supaya suatu saat kelak saya juga bisa fasih berbahasa China dan mengenal seluk beluk leluhur saya.
Tahun 1998, Jakarta dan beberapa kota di Indonesia mengalami Tragedi Mei, dimana terjadi peristiwa perkosaan dan kerusuhan hebat, sekali lagi sejarah mencatat bahwa ada “usaha-usaha” sistematis yang dilakukan dengan mengkambing-hitamkan orang China. Saya masih ingat seminggu kami harus berdiam diri dan ketakutan, tidak berani keluar rumah kontrakan hanya makan nasi dan indomie rebus, demi bertahan hidup. Jakarta benar-benar membara.
Apakah saya benci dan dendam dengan semua realitas ini? Tentu saja tidak! Saya justru melihat lewat semua krisis dan tekanan-tekanan yang dialami orang-orang China di Indonesia, telah mengakibatkan kebangkitan, dan ketangguhan secara mental, karakter dan moral yang kokoh, bahwa kami ingin diakui, dan dihargai sebagai bagian dari bangsa Indonesia meskipun kami orang China.
Kakek saya lahir di Indonesia, ayah saya lahir di Indonesia, dan sayapun lahir di Indonesia. Kini saya sudah punya anak yang juga lahir di Indonesia. Isteri saya orang Indonesia. Saya berbahasa Indonesia, semua sejarah hidup saya sejauh ini saya tulis di Indonesia. Kiprah, gairah dan karya saya sejauh ini saya wujudkan di Indonesia. Entah sampai kapan saya bisa bangga untuk menjadi orang China di Indonesia?
Apakah ini adalah sebuah kenaifan menyebut diri China di Indonesia? Tidakkah cukup hanya menjadi orang Indonesia saja? Atau justru tetap mengaku diri orang China? Saya sejujurnya tidak bisa memilih salah satu. Hakekat jiwa raga saya harus membuat saya mengaku: saya bangga jadi orang China yang lahir di tanah Jawa, bermata agak sipit, belajar bahasa Mandarin? Merayakan Imlek? Apakah kami egois? Apakah kami naif? Tidak cinta Indonesia?, jika kami memberi nama anak kami nama-nama China di sertifikat kelahiran anak kami?
Whatever you say, I’m here to love, to care, and to be a blessing for my beloved country Indonesia. Forever I will say, you will always be in my heart. Sampai kapanpun selama Ibu Pertiwi masih mengijinkan saya hidup, exist dan berkiprah disini, saya akan ada di sini untuk selamanya. Saya cinta Ibu Pertiwi. Saya cinta Indonesia! Aku bangga jadi Chindonesia! |