Oleh: Erick Rizky
Jum'at, 27 Januari 2012 , 07:30:00 WIB
![]() CITRA SADAHURIP |
DALAM pengantar untuk acara Geotrek ke Sadahurip, Sabtu, 28 Januari 2012 ahli geologi Indonesia dari BPMigas, Awang Harun Satyana, menuliskan:
"Tiadanya kawah atau sumbat lava seperti ditemukan di kebanyakan gunungapi membuat Sadahurip tidak bisa segera disimpulkan sebagai gunungapi. Keberadaan batuan-batuan volkanik di lereng Sadahurip dapat mengartikan dua hal: ini bukit volkanik atau batu-batu gunung itu justru merupakan jejak tradisi megalitik seperti punden berundak Gunung Padang Cianjur yang dibangun masyarakat prasejarah di lereng-puncak sebuah bukit volkanik."
Dalam hal ini Awang jauh lebih bijaksana, lebih sistimatis dan lebih berpikiran terbuka daripada ahli geologi sebelumnya yang sangat terburu-buru menolak interpretasi kemungkinan bahwa Sadahurip adalah bentukan non-alamiah yang serupa piramida yang tertutupi oleh lapisan-lapisan volkanik baik alamiah ataupun disengaja untuk menutupinya. Itupun dilakukan dengan hanya sehari mendaki Gunung Sadahurip mengamati dan memotret 4-5 spot singkapan batuan di permukaannya.
Paling tidak, dengan adanya pendapat Awang tersebut, khasanah berpikir komunitas geosains Indonesia masih menyisakan sedikit tradisi out-of-the-box thinking yang sangat dibutuhkan dalam tahapan proses eksplorasi - pencarian dan penemuan sejarah lapisan-lapisan pembentuk bumi dan/atau sumberdaya kebumian khususnya.
Cara berpikir keluar kotak mengandalkan ketajaman intuisi eksplorasi dari pengetahuan yang luas tentang prinsipprinsip ilmu geologi dasar. Di dalam kasus Gunung Sadahurip ini, misalnya, perlu diingatkan juga kepada masyarakat kebumian tentang multiple working hypothesis yang bisa jadi mendasari penelitian berlanjut tentang bentukan atau morfologi gunung yang "aneh" tersebut.
1. Dari IFSAR ketelitian 2-meter dapat terlihat dengan jelas anomali bentukan morfologi daerah puncak Gunung Sadahurip di atas garis kontur tertentu yg terlihat "mulus" tanpa torehan, tanpa jejak erosi sama sekali. Bentukan tanpa jejak erosi itu juga terlihat jelas secara visual dari berbagai sudut pandang dari lereng - dasar Gunung Sadahurip, dan saat dibuktikan dengan penjelajahan ke daerah tersebut yang kita dapatkan adalah: tumbuhan rumput ilalang dan semak-semak di atas penutup "tanah" yang serupa lapukan dari tubuh batuan volkanik.
Morfologi seperti itu dimungkinkan berasosiasi dengan: a) batuan trobosan (intrusi) asam - granitik yang berumur tua sehingga mengalami erosi lanjut menyebabkan pembundaran tekstur morfologinya, atau b) batuan volkanik penyumbat (volcanic plug) yang berumur sangat muda sehingga belum sempat untuk ditoreh - dierosi secara ekstensif oleh proses-proses eksogen (angin dan air), atau kalau a) dan b) tidak terbukti, maka kemungkinan c) sebab-sebab alamiah maupun non-alamiah lainnya yang akan dapat dibuktikan dengan menganalisis perconto batuan secara sistimatik, baik di permukaan maupun bawah permukaan daerah puncak tersebut.
2. Bahwa bentukan-bentukan bentang alam geometris produk-produk gunung api yang nyaris simetris di beberapa sisi dikenal di khazanah ilmu geologi dengan berbagai nama seperti: cinder cone (kerucut sinder), volcanic plug (sumbat volkanik), parasit crater/volcano (gunung api/kawah parasit), volcanic cone slides (longsoran kerucut2 volkanik spt thousand hills di Tasikmalaya), volcanic (cummulo) dome (kubah volkanik) dan juga volcanic intrusion (intrusi volkanik).
Masing-masing jenis bentukan tersebut di atas mempunyai karakter asosiasi batuan dan struktur permukaan dan bawah permukaan yang berbeda satu dengan lainnya, meskipun ada pula kesamaan-kesamaannya. Untuk membuktikan termasuk pada jenis bentukan volkanik seperti apa Gunung Sadahurip itu maka diperlukan akuisisi data permukaan dan bawah permukaan yang memadai, bukan sekedar sampling permukaan sehari di 4-5 lokasi.
Fenomena permukaan seringkali hampir sama antara bentukan satu dengan bentukan lainnya, bahkan juga dengan bentukan non-alamiah yang kemungkinan memanfaatkan provenance (sumber batuan) setempat. Untuk itulah maka satu persatu secara sistimatis hipotesa-hipotesa tentang mulajadi (genesa) bentukan Gunung. Sadahurip yang sangat eksotis simetris itu diuraikan dan diteliti dengan menggunakan data-data yang diakuisisi juga secara sistimatik dan ilmiah. Geolistrik superstring (3 dimensi) dengan berbagai spacing, GPR dengan berbagai frekuensi, geomagnetic survey, surface sampling, trenching, carbon dating, petrographic analyses, dan juga pemboran adalah metoda-metoda yang layak dipakai dalam menganalisis bentukan Gunung Sadahurip tersebut.
Seperti yang pernah saya kemukakan dlm berbagai kesempatan diskusi dan tulisannya di media maya, saat ini sudah hampir setahun Tim Katastrofi Purba meneliti Gunung Sadahurip dengan dasar "Multiple Working Hypothesis" itu, disamping kesibukan meneliti daerah-daerah lain di Indonesia seperti Banda Aceh, Lubuk Linggau, Palembang, Pagar ALam, Lampung, Banten, Bekasi - Batujaya, Gunung. Padang Cianjur, Trowulan, dan tempat-tempat lainnya secara sporadis sehingga perkembangannya agak lambat dibanding kalau fokus hanya pada satu objek telitian satu lokasi saja.
Hal ini perlu dimaklumi karena keseluruhan peneliti independen tersebut meskipun kebanyakan juga berasal dari lembaga penelitian pemerintah dan Perguruan Tinggi, mereka menggunakan sumber dana pribadi dan sumbangan-sumbangan yang tidak mengikat dari donor-donor sehingga belum dapat secara efisien dan efektif melaksanakan penelitian-penelitiannya.
Inisiasi oleh Staf Khusus Presiden Bantuan Sosial dan Bencana dalam hal ini dilakukan karena tujuannya yang akan sangat banyak membantu menguak potensi kebencanaan masa lalu untuk dipelajari - sangat klop dengan misi dan visi kantor SKP BSB yang ingin mensinergikan dan menstimulasi komponen-komponen sistim mitigasi kebencanaan nasional untuk bisa saling bekerjasama dan menghasilan manfaat bagi keselamatan masyarakat dan negara dalam konteks kebencanaan.
Insyaallah seusai pemboran Gunung Padang yang sedang berlangsung ini, yang juga dikoordinasikan dengan pihak Arkeologi Nasional dan BP3 Serang, Tim BKP akan lanjut ke Trowulan untuk menguji fungsi kanal-kanal purba pra-Majapahit dengan tiga kebudayaan dan tiga penyebab bencananya. Selanjutnya di bulan Maret 2012 akan ke Gunung Sadahurip untuk melakukan pemboran eksplorasi di sana.
Pengetahuan tentang bencana-bencana katastrofik purba dan juga tentang tingkat pengetahuan dan teknologi purba menghadapi bencana mudah-mudahan akan bermanfaat bagi keselamatan bangsa Indonesia hidup dengan bencana masa kini dan mendatang. [***]
Penulis adalah Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, juga Ketua Tim Katastropik Purba


- Proses






