Rakyat Merdeka Online

Share |
LAPORAN DARI BELANDA
Pengikut SBY Jangan Bela Cara-cara Fasis!
Cara Mega Lebih Damai
Selasa, 03 Januari 2012 , 10:50:00 WIB
Laporan: A. Supardi Adiwidjaya

BURHAN AZIS/RMOL

  

RMOL. Fungsionaris Partai Demokrat menunjukkan nalar yang sangat rendah kala melemparkan tanggungjawab atas kasus-kasus penembakan rakyat atau petani oleh aparat pemerintah yang kian mencolok selama 2011.  

Hal itu dikatakan Koordinator Unit Kerja PDI Perjuangan di negeri Belanda, Burhan Azis, kepada koresponden Rakyat Merdeka Online di Belanda, kemarin (Senin, 2/1). Burhan menyebut fungsionaris Departemen Hukum dan HAM Partai Demokrat, Oka Wijaya, mencoba mengalihkan kasus-kasus pelanggaran HAM di zaman SBY kepada apa yang disebutnya salah penanganan di zaman pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Saat diwawancara Sabtu lalu, (31/12) Oka mengatakan bahwa konflik agraria lahan di Mesuji (Sumatera Selatan dan Lampung) sudah ada jauh sebelum SBY jadi Presiden. Terutama sekali, banyak salah penanganan di zaman Presiden Megawati. Menteri Kehutanan Nur Mahmudi Ismail waktu itu mengeluarkan SK yang berisi tentang perdamaian dengan perusahaan sawit. Sementara sebelumnya sudah ada SK yang sudah dikeluarkan di zaman Presiden Gus Dur.

Nah, menurut Burhan Azis, yang dipersoalkan rakyat bukan karena kasus tersebut sudah ada sejak masa pemerintahan sebelumnya. Melainkan, cara penyelesaian konflik dengan tindak kekerasan yang dilakukan aparat keamanan. Tentu saja tindak kekerasan tersebut sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah SBY dan tidak masuk akal bila dilemparkan kepada pemerintahan sebelumnya.
 
"Pemerintah Megawati mengeluarkan SK yang berisi perdamaian antara petani dengan perusahaan. Ini berarti, pemerintah ketika itu mencari solusi dengan musyawarah dan mufakat sesuai dengan Pancasila, sehingga terjadilah perdamaian antara kedua belah pihak yang bersengketa," tutur Burhan.

Sedangkan aparat keamanan pemerintahan SBY, lanjutnya, malah menembaki petani di Mesuji sehingga tidak sedikit jatuh korban di pihak petani. Dalam pendapatnya, itulah cara penyelesaian konflik yang lazim digunakan oleh kaum fasis.
 
"Mengapa yang diambil jalan kekerasan, bahkan kekerasan senjata dalam menghadapi petani bangsa sendiri?" gugat Burhan.
 
Dia pun bertanya kepada para pembela SBY. Manakah cara penyelesaian konflik yang manusiawi sesuai dengan Pancasila: bermusyawarah mencari perdamaian yang dilakukan pemerintah Megawati, ataukah menggunakan kekerasan ala fasisme mengerahkan aparat keamanan menembaki para petani bangsa sendiri? 

"Pantas saja rakyat tidak mempercayai pemerintah SBY sekarang ini, karena adanya orang-orang yang membela tindak kekerasan terhadap bangsa sendiri," tandas Burhan.[ald]


Baca juga:
Oposisi: SBY-Boediono Rezim Koruptor dan Pembantai Rakyat!
Terlihat Jelas SBY Lebih Mengutamakan Pemodal daripada Rakyat
Partai Demokrat: Tahun 2012, Partai Koalisi Jangan Macam-macam Dulu
PULANG
Demokrat: Pemerintah Harus Memperbaiki Diri!

Komentar (14)

Nama
Judul
Komentar
  1. SAATNYA BARISAN SAKIT HATI BERTOBAT
    05.01.2012, 13:47 WIB
    Komentator: rijal
    SEMOGA PECUNDANG BARISAN SAKIT HATI SEGERA INSYAF DAN BERTOBAT. DARI PADA STRES TERUS MENERUS KARENA GAGAL REVOLUSI YANG NGGAK PERNAH DIDUKUNG RAKYAT
  2. Tangkap dulu tuh Andi Nurpati!!!!
    04.01.2012, 16:23 WIB
    Komentator: Mahfud
    yaa..jangan tebang pilih...tuh semua orang bodoh saja tahu bagaimana peran Andi Nurpati..
  3. - SBY sakit Jiwa, atau Jawa sakit.
    03.01.2012, 18:54 WIB
    Komentator: KPPP
    www.pancasilakppp.org
  4. Wat kamu kok ndak dongan to...harga satuan nyawa akibat konflik dong yg rawan HAM...kalo bencana ya lain to...
    03.01.2012, 14:42 WIB
    Komentator: cogito
    Mosok korban bencana kok pelanggaran HAM...emang kamu mo nuduh Tuham melanggar HAM ya...wekekek...ndak takut kualat dikau?

    Nyawa manusia kan sangat berharga to Wat...mosok kamu ndak bisa mengharga nyawa. Jadi hargailah nyawa manusia, meski itu hanya satu nyawa. MAkanya hitunganya ya satuan nyawa...mosok puluhan nyawa kamu hitung satu.
  5. hahahaha... harga satuan nyawamu berapa... dik??? hahahahaha...
    03.01.2012, 13:47 WIB
    Komentator: markuwatdaskurapkudis
    baru terjd di Rezim sekarang ini.. Rezim NYUDHONYOWO-BUDOYONO, nyawa ada harga satuannya... hahahaha... begitu rusakkah mental penjilat2 Si Bull dog Yahudi hingga nyawapun ada harga satuan..?? hahahaha... kalo dihitung jmlh nyawa yg hilang, sangat jelas rezim busuk skrg memegang rekor terbanyak !! 2004 begitu njabat, langsung dihantam tsunami, kecelakaan di tol gara2 rombongan cikeas mo lewat, dll kejadian sbg tumbal nyawa.... hiii serem...
  6. Kasusnya kan sama2 konflik to Kok...gimana sih kamu...harga satuan nyawanya juga sama...
    03.01.2012, 11:51 WIB
    Komentator: cogito
    Mosok harga satuan nyawa kok dibeda2kan gitu. Ya ndak bisa. Kalo korban krn konflik kan jelas2 masalha HAM, entah berat apa ringan.

    Ndak peduli cara nyabut nyawanya gimana, yg jelas nyawanya sama2 ilang deh. Jadi ya tetepa masalah HAM. Semakin tinggi nyawa tercabut krn konflik, ya jelas semakin banyak pelanggaran HAM nya.

    Kalo di jaman Mbak Mega 1000 nyawa dihargai 1juta rupiah. Dijaman SBY 20 nyawa dihargai 10 juta rupiah. Coba mahal mana harga nyawanya? Semakin mahal harganya, bukti penguasa semakin bisa menjaga keamanan rakyatnya.
  7. lucu niiiiih
    03.01.2012, 11:41 WIB
    Komentator: kok gitu
    cogito nalarnya lebih rendah lagi...lebih goblok lagi hahahahaha..

    dek cogito, kalo mau komentar itu jangan asal2an gitu ya, alias ABS (asal bambang senang). itu jumlah korban dilihat sesuai konteks zaman peralihan , bukan sembarangan lihat jumlah korban aja tapi latar belakang kasusnya.
  8. Wekekek..kalo mo mbanding2in, jum,lah nyawa melayang krn konflik jauh lebih banyak dijaman sebelum SBY...
    03.01.2012, 11:32 WIB
    Komentator: cogito
    Coba lihat fakta berikut :
    1. JAman Bung Karno : perang sodara mempersatukan Indonesia, korban : 1 juta nyawa
    2. Jaman Soeharto : rekor, G30S dan tindakan represif, korban : > 2 juta nyawa
    3. JAman Habibie : Timtim dan kerusuhan politik, korban > 500 nyawa
    4. JAman Gus Dur : Kerusuhan Sampit, Poso dan Ambon > 10 rb nyawa.
    5 Jaman Mbak Mega : sisa2 kerusuhan Poso dan Ambon >1000 nyawa.
    6. JAman SBY, coba lihat berapa korbanya? Kurang dari 20 orang korban konflik.

    Coba Burhan lihat data diatas.
  9. congor
    03.01.2012, 11:21 WIB
    Komentator: Anti kekerasan
    lihat juga komentar Congor Ruhut di Tv one..dia anggap munculnya kasus ini di publik itu ulah orang2 yang kalah lawan sby...itu congor gue sumpahin mlepuh
  10. Kambing Hitam
    03.01.2012, 11:19 WIB
    Komentator: Kebo BEYE
    Megawati dan Gus Dur ,waktu jadi Presiden nggak pernah menyalahkan Soeharto .Bedanya Negarawan ama manusia kerdil disitu memang .
  11. imbas dari masalah sebelumnya
    03.01.2012, 11:17 WIB
    Komentator: lila
    pemerintahan SBY sekarang ini hanya imbas dr pemerintahan sebelumnya.kalupun ada kekerasan dlm kasus mesuji itu krn rkyt sekarang sudah tdk bs di musywarah dan mufakat.karena masyarakat sekarang sudahmuak dgan pemerintahan sebelumnya so barulah rakyat berani untuk melawn.
  12. imbas dari masalah sebelumnya
    03.01.2012, 11:17 WIB
    Komentator: lila
    pemerintahan SBY sekarang ini hanya imbas dr pemerintahan sebelumnya.kalupun ada kekerasan dlm kasus mesuji itu krn rkyt sekarang sudah tdk bs di musywarah dan mufakat.karena masyarakat sekarang sudahmuak dgan pemerintahan sebelumnya so barulah rakyat berani untuk melawn.
  13. Baru sadar!
    03.01.2012, 11:13 WIB
    Komentator: Bobrok
    Baru sadar kalau pembela Sby nalarnya rendah? Dari dulu argumentasinya barisan sakit hati, dasar otak kebo!
  14. Tidak ada yang mau kekerasan
    03.01.2012, 11:13 WIB
    Komentator: Jafar
    Masalah penyelesaian masalah dari dulu tidak ada yang yang menghendaki kekerasan, tapi dilapangan kadang berbeda dalam penanganan dan sikap masyarakat yang cenderung brutal dan tidak terkendali. Ditambah lagi pernyatan pernyatan dari elit parpol untuk mencari populitas semata tanpa membantu mencari solusi penyelesaian

Membumikan Bahasa Langit

Istilah Saham Tak Akan Ubah Identitas Koperasi


Kalau Rapat Tak Perlu Lagi Makanan Kecil...



Fir’aun (dan Piramid)




 

Di Kandang, Banteng Chicago Patahkan Hawks

Tuan rumah Chicago Bulls kem­bali menunjukan eksistensi­nya sebagai tim ...

 

Petrov Kembali Turun Gunung

Pebalap Rusia, Vitaly Pet­rov akhirnya bisa kembali ke lin­tasan setelah ...

 

Tugas Terakhir Boas?

Napoli sangat percaya diri jelang pertandingan lawan raksasa Liga Premier, ...

 

Poin Terindah Jared

Phoenix Suns berhasil bangkit dari keterpurukan di empat laga terakhir. Ta ...