Rakyat Merdeka Online

Home

Share |

DR. Muthoharun Jinan: Majelis Tafsir Alquran Tidak Jauh Berbeda dengan Muhammadiyah
Senin, 30 Januari 2012 , 15:29:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

ILUSTRASI PENOLAKAN WARGA ATAS MTA/IST
  

RMOL. Majelis Tafsir Alquran didirikan pada tahun 1972 oleh Abdullah Thufail Saputra dan berpusat di Solo. Namun, dalam perkembangannya, organisasi ini mendapat reaksi dari masyarakat, seperti yang terjadi di Kudus pada Sabtu lalu.

Dikutip dari situ Metro TV, puluhan aktivis dari GP Anshor, Fatayat, IPNU-IPPNU, PMII Kudus, dan Banser Kudus Sabtu (28/1) mendatangi Gedung Ngasirah di Jalan Jendral Sudirman Kudus, tempat pengajian MTA digelar.

Mereka meminta penyelenggara segera membubarkan diri. Alasannya, ajaran MTA radikal dan menafsirkan Alquran seenaknya sendiri.

Benarkah demikian?

DR. Muthoharun Jinan, yang menulis disertasi Penyebaran Gerakan Purifikasi slam di Pedesaan Studi Kasus Majelis Tafsir Alquran, di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini tidak sepakat. Meski memang MTA dalam menasirkan Alquran tidak merujuk pada pendapat ulama dalam kitab-kitab tafsir. Karena MTA menafsirkan berdasarkan teks Alquran-Hadits.

"MTA tidak merujuk pada paham-paham terdahulu, tidak merujuk pada tafsir yang berbelit-belit. Yang banyak dipakai dipakai adalah Alquran, Hadits, dan terjemahannya," jelasnya kepada Rakyat Merdeka Online siang ini.

Karena itu, MTA tidak melaksanakan sesuatu pekerjaan yang tidak ada rujukannya dalam Alquran dan Hadits.

"Misalnya amalan yang tidak ada dasarnya dalam Alquran dan Sunnah dia tidak melaksanakan. Di masyarakat kan banyak juga hal-hal tradisi, kebiasaan yang secara tekstual tidak ada dasarnya, tapi dilaksanakan oleh mereka," ungkap dosen UIN Sunan Kalijaga ini.

Misalnya, tradisi tahlilan, ritual yang dilakukan untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

MTA tidak mau menjalankan praktik tahlilan. Alasannya, tidak ada perintah baik dalam Alquran dan Hadits. Tapi, MTA tidak mengharamkannya. "Terminologinya hanya meninggalkan," paparnya.

Karena itu, menurutnya, pemahaman keagamaan MTA tidak jauh berbeda dengan Muhammadiyah. Keduanya sama-sama tekstual dan akrab dengan jargon kembali kepada Alquran dan Sunnah. [zul]


Baca juga:
Pembubaran Pengajian MTA Langgar Ukhuwah Islamiyyah
NU Disindir Jangan Hanya Lantang Teriakkan Pluralisme
AKSI GKI YASMIN
Kader NU Tak Berhak Bubarkan Acara Pengajian
Pimpinan Dewan Kaget Kader NU Bubarkan Pengajian


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Ternyata Si Therapist Rekam Dada Jessica

Jessica Iskandar akhirnya angkat bicara tentang dirinya yang dilecehkan Na ...

 

Ratna Listy, Ajukan Gugatan Cerai Sendiri Tanpa Lawyer

Kabar perceraian kembali datang. Kali ini giliran artis lawas Ratna Listy ...

 

Mirjana Puhar, Tewas Ditembak, America's Next Top Model Shock

Para penggemar ajang pencarian bakat America's Next Top Model (ANTM) b ...

 

Jessica Iskandar, Ngaku Dilecehin, Netizen Bingung di Bagian Mana

Jedar dianggap cari sensasi. Mungkin untuk pengalihan isu kasus pernikahan ...

 

"Di Situ Kadang Saya Sedih" Makin Kreatif dan Lucu

Kalimat "di situ kadang saya merasa sedih" semakin ngetop. Di sosial media ...


Berita Populer

Din Syamsuddin Minta Mauludan di Masjid Assalam Dibubarkan
Jonru: Ini yang Kalian Bilang Gubernur Bersih
Bokir: Mengapa Ahok Tidak Laporkan Mark Up Busway di Era Jokowi